CERPEN - KARYA TULIS SISWA SISWI SMAN 7 TASIKMALAYA
Pertanyaan dari Langit Ibu Pertiwi
Kelima remaja SMA yang masih memakai pakaian putih abu
berjalan beriringan setelah sedari pagi mereka pergi belajar. Salah seorang
remaja yang bernama Nawang memastikan rencana mereka dengan bertanya “Ini jadi
kan kita belajar bareng? Soal e aku harus anter ibu ke nikahan” Giharto temannya
pun menjawab “Yo jadi, tapi kita gak pulang dulu lah, gimana?” keempat
temannya, Nawang, Pandita, Ghandi, dan
Nayaka menyetujui usulan tersebut. “Sip alhamdulillah, jadi gak usah anter ibu
ke nikahan, siang-siang gini, panas”
Ghandi yang mendengar hal tersebut “Awas yo alasan itu disalahgunain, gak baik
karo orang tuamu”. Saat mereka sedang berjalan sembari mengobrol, tiba-tiba
suara perut keroncongan milik Pandita mengalihkan obrolan mereka dan membuat
mereka tertawa terbahak-bahak , Pandita pun meminta untuk membeli makan
terlebih dahulu “Ini beli makan dulu yo” Nayaka menjawab dengan semangat sambil
bergaya menembak ke arah Giharto menggunakan jari-jarinya “Ayoo, Giharto yang
bayarin kan?” Yang disebutkan namanya pun hanya mengerlingkan mata, di antara
teman-temannya memang Giharto lah teman yang royal, karena ia merupakan anak
dari pengusaha yang cukup sukses. Selain Giharto, Nayaka pun dari keluarga yang
berkecukupan, tetapi meskipun begitu dia sangat menjaga pengeluarannya, bahkan
teman-temannya sering mengatakan bahwa Nayaka orang yang pelit. Setelah mampir
ke warung nasi, mereka sampai di bangunan kayu yang biasa digunakan untuk
berkumpul, suara Pandita yang terdengar
sangat bersemangat setelah perut laparnya telah terisi mengagetkan
teman-temannya “Yoo kita belajar serius! Tumbang lah wahai jiwa-jiwa malas!”
Keempat temannya pun menjawab kompak yang sedikit berteriak “Memangnya siapa
yang malas?!”. Beberapa saat mereka sudah fokus belajar dan diskusi serius
tentang materi yang sedang dibahas. Walau mereka terlihat seperti anak remaja
yang suka nongkrong, tetapi nyatanya mereka merupakan sisw a-siswa yang
berprestasi, mereka kompak selalu mengikuti berbagai lomba olimpiade di bidang
mata pelajaran yang berbeda. Saat semuanya sedang membicarakan pelajaran
sejarah Indonesia yang dibahas di sekolah tadi, Ghandi hanya terdiam dan
matanya melihat ke arah langit lalu berkata “Apa yo yang sudah kita kasih buat
bangsa ini?” Mendengar hal tersebut, semuanya terdiam dan memikirkan hal yang
sama, Pandita mulai berbicara “Iya, apa yo yang bisa kita kasih buat bangsa
ini? saat ini sebagai generasi muda” Lalu Nawang menambahkan “Sebagai penerus
bangsa ini, yang harusnya kelak dapat menjadi penerus yang baik setelah para
pahlawan memperjuangkan negara ini mati-matian demi dapat memerdekakan hak
seluruh rakyat Indonesia” Semuanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing
hingga Nayaka bersuara “Wes to kita sebagai pelajar, juga sebagai penerus bangsa berarti yo kita
musti belajar sing serius, sing apik” “Terus jadi wong sugih, kalo sudah jadi
wong sugih buat sekolah gratis tenane, biar semua bisa merasakan sekolah” Itu
adalah Ghandi, yang setelah berkata tersebut dia menarik turunkan alisnya,
bangga dengan apa yang diucapkannya.
Pagi harinya, mereka seperti biasa saling menunggu satu
sama lain di tempat kumpul untuk berangkat sekolah bareng. Namun, saat sedang
di tengah perjalanan mereka melihat sekumpulan anak sekolahan memakai seragam
SMP bahkan seragam SD, sedang menunggu di depan warung internet. Mereka pun segera
menghampiri sekumpulan anak tadi, melihat hal tersebut Ghandi dan yang lainnya begitu
tak habis pikir “Kalian ini lagi pada ngapain disini? Bukannya langsung berangkat
sekolah, malah kumpul di sini!” Setelah mendengar Ghandi berbicara seperti itu,
dengan soknya Pandita merangkul salah
satu anak-anak tadi dan berbicara “Apa kalian ndak malu, apa kalian ndak kasihan
karo orang tua kalian” Sekumpulan anak tadi pun hanya menundukkan kepala
mereka. Nayaka tiba-tiba menanyakan pertanyaan kepada anak-anak tadi “Kalian
tahu sekarang hari apa?” Salah satu anak menjawab “Sekarang hari Rabu”
mendengar jawaban itu, Giharto tertawa sembari berbicara “Bukan itu dek yang
dimaksud kakak ini, bisa ae ngelucunya” Sekarang giliran Nawang yang berbicara
sambil berlaga seperti seorang guru “Sekarang tanggal 20 Mei yang diperingati
sebagai hari kebangkitan Nasional. Kalian sebagai pelajar harus tahu bagaimana
para pahlawan memperjuangkan kesetaraan
pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia, yakni dengan mendirikan organisasi
Budi Utomo. Kita sebagai pelajar juga harus dapat menghormati, menghargai, dan
meneladani pengorbanan mereka dengan belajar yang sungguh-sungguh. Bagaimana
kalian mau meneladani kalau sekolah aja suka bolos mampir ka sana ke mari,
jangan sampai udah gede jadi remaja yang suka mabuk, ngerokok, geng motor, atau
pengonsumsi obat-obatan haram” Setelah panjang lebar Nawang menjelaskan,
tiba-tiba Giharto menatap aneh keempat temannya dengan tersenyum “Gais kenapa
musti nunggu jadi wong sugih untuk buat sekolah gratis yo???” Yang lainnya
kebingungan dan Pandita pun langsung menanyakan tak sabar “Maksudnya apa si?
mereka kan anak sekolahan wooy” “Bukan gitu, maksudnya itu gimana kalo kita
buat kayak kursus gratis gitu, yang jadi gurunya yo kita berlima. Ini kursus
yang kecil-kecilan aja dulu, maksudnya buat anak-anak sekitar aja” Keempat
temannya saling menatap kebingungan, Giharto yang melihat itu kesal dia pun
berbicara dengan nada meledek “Kenapa si? Kalian gak sanggup? Ragu? Katanya
pengen ada yang bisa dikasih buat negara” Mendengar itu teman-temannya menjawab
“Yo sanggup lah, ayoo” Kecuali Pandita yang hanya membuat wajah datar “Apa ndak
bisa yo nanti di sekolah aja bahasnya? Ini udah siang astaghfirullahaladziiim,
bukannya kita ngasih contoh malah nanti kita ikut bolos” Sontak mereka pun lari
menuju sekolah yang gerbangnya sebentar lagi akan ditutup. Nayaka melihat ke belakang,
dia berlari sambil berteriak “Nanti kita bakal datengin kalian ke rumah
masing-masing, awas yoo kalo kalian bolos, tak bilangin karo orang tua kalian”.
Setelah mendiskusikan kembali, mereka pun menyetujui
usulan dari Giharto. Mereka harus mendatangi rumah anak-anak tadi untuk meminta
kerja sama dengan orang tuanya terlebih dahulu. Saat meminta kerja sama, ada
banyak dari orang tua merasa ragu karena yang menjadi pengajarnya merupakan remaja yang masih
bersekolah. Meskipun begitu, Giharto dan yang lainnya terus berusaha dan
memberikan pengertian bahwa ini akan menjadi kegiatan belajar bersama agar bisa
membangkitkan rasa semangat belajar dan juga agar dapat mengurangi anak dari
kecanduan bermain game, hingga akhirnya beberapa orang tua memberikan izin.
Sebelumnya mereka telah merencanakan, tempat untuk biasa kumpul akan dijadikan
sebagai tempat belajar dengan papan tulis yang dibeli dari uang patungan mereka,
bahkan juga mereka menyediakan beberapa buku bacaan dan sedikit menghias tempat
kumpul agar terlihat asik dan menyenangkan. Walau kadang terasa melelahkan
karena mereka harus membagi waktu, tetapi mereka tetap melakukannya dengan
tulus dan senang hati. Hingga kegiatan belajar tersebut bertahan lama, bahkan
anak-anak yang ikut bergabung pun semakin bertambah. Mendengar hal tersebut,
pihak sekolah begitu bangga dengan mereka dan mendukung penuh terhadap kegiatan belajar itu.
Giharto, Ghandi, Pandita, Nawang, dan Nayaka begitu senang
dan bersyukur bisa melakukan hal yang dapat memberikan sedikitnya manfaat bagi
orang sekitar, juga mereka berharap kegiatan belajar tersebut semakin membesar
dan dapat menjadi inspirasi untuk banyak orang. Sebagai generasi penerus tidak
perlu menumpahkan darah untuk meneladani atau menghormati para pejuang bangsa, tetapi
cukup menjadi penerus yang amanah dengan apa yang telah diperjuangkan oleh para
pejuang. Hari kebangkitan Nasional mengingatkan kepada kita untuk bisa
memanfaatkan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Maju mundurnya suatu bangsa dilihat
dari bagaimana kualitas pendidikan bangsa itu sendiri.
Penulis: Dita Ayu Murti

Komentar
Posting Komentar