Cerpen-karya tulis Sma negeri 7 tasikmalaya
TRANSMIGRASI G30S/PKI
Ketika
Transmigrasi yang kita artikan sebagai perpindahan penduduk kini berubah
menjadi perpindahan jiwa dari masa kini ke masa lampau.
G30S PKI
merupakan sebuah sejarah yang takkan terlupakan yang dimana banyak sekali nyawa
yang melayang. Namun, apakah kita pernah berfikir akan menyaksikannya? Tentu
saja tidak! Namun, mengingat kita tinggal di dunia yang penuh akan modernisasi
dan pastinya itu tak terasa mustahil untuk kita wujudkan.
Seperti hal nya
3Remaja SMA GARUDA yang dimana bergabung didalam KIR (Kelompok Ilmiah Remaja)
yang tengah melakukan percobaan terhadap sebuah mesin waktu yang telah mereka
taklukan. Yang dimana mesin tersebut mereka buat dengan otak cerdas mereka yang
telah melampaui batas IQ rata-rata manusia.
"Ki gimana
beres?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Rayhan (anak dari pemilik
yayasan SMA GARUDA).
Rifki yang tak
lain tak bukan adalah teman Rayhan kini tengah mengotak-atik mesin waktu yang
mereka buat.
"Udah nih
tinggal uji coba." jawabnya, kemudian menepuk kedua telapak tangannya guna
menginghilangkan debu yang menempel.
"Terus siapa
yang bakal jadi kelinci percobaan?" tanya seorang wanita berparas cantik.
Namanya Riska yang dimana satu-satunya wanita dari 2pria temannya itu.
"Kita aja
gimana?" usul Rayhan
"Kalo gue sih
terserah lo aja." jawab Rifki
"Oke fiks
kita berdua masuk. Dan lo yang ngendaliin ni mesin, oke?" putus Rayhan,
dan ia menunjuk Riska sebagai pengendali mesinnya.
Riska hanya
mengacungkan satu jempol tangannya. Wanita itu irit bicara, namun sekalinya
mengeluarkan suara maka seribu lelaki akan terpesona. Mata elang lelaki itu
berbinar, seakan mendapatkan berlian yang sulit ditemukan. "Sip."
final Rayhan.
"Tapi lo
harus inget kita masuk cuma 10menit doang habis itu, lo balikin kita
kesini." ujar Rifki, mewanti-wanti Riska agak tidak ceroboh.
"Oke."
jawab Riska dengan nada dinginnya.
Mereka duduk di dua kursi yang telah disediakan,
dengan berbagai kabel yang mengelilinginya sedemikian rupa. Mesin mulai
dinyalakan, semua alat telah terpasang dan kini buku telah diletakkan disisi
yang berlawanan. Tujuan mereka adalah Peristiwa G30S PKI yang hanya akan
melihat-lihat keadaan disana. Melalui sebuah buku sejarah mereka akan masuk dan
merasakan sensasi didalamnya.
ONE
TWO
THREE
GO!!!
Aba-aba telah terdengar
dan kini cahaya putih menyala menyilaukan mata mereka rifki dan Rayhan hanya
menutup mata, sembari melafalkan doa yang telah mereka pelajari.
Sedangkan disisi
lain Riska tengah asik mengotak-atik mesin yang mereka gunakan sedang
memprogresnya dengan sedemikian rupa, supaya mereka dapat kembali dengan
selamat.
Jiwa Rayhan dan
Rifki kini menghilang, meninggalkan jasad yang kini bak mayat bernyawa. Mereka
dinyatakan pingsan namun entah akan berapa lama lagi waktu mereka untuk sadar.
*****
"Fik, kita
dimana?" dengan rasa cemasnya Rayhan berusaha untuk tenang dan mengawasi
setiap sudut tempat yang mereka pijaki.
"Bentar gue
inget-inget dulu, tadi dibuku sejarah kita masuk kesejarah mana?" dengan
mengelilingi sekitar Rayhan mengingat-ingat akan peristiwa yang akan mereka
saksikan.
"Kalo gak
salah sih ke peristiwa G30S PKI, soalnya kan kita udah niat kesana berhubung
besok tanggal 30 September."
"Kayaknya
kita berada di zaman itu deh!" dengan samar mereka melihat tempat seperti
posko keamanan zaman dulu.
"Nih lu liat
kalendar di jam gua." ya, beruntungnya saat itu Rayhan tengah memakain jam
tangan yang didalamnya juga terdapat kalendar digital.
01 September 1965
03.00 WIB
"Ray, itu
siapa dah! Pakeannya aneh gitu." tanya Rifki, ia melihat seorang lelaki
muda dengan pakaian yang tak biasa, lelaki itu tengah memegang senter dan
mengarahkannya kesana-kemari.
"Lu lupa apa
gak inget? Kita kan lagi ada di jamannya PKI, ya pantes lah pakeannya kek
gitu." tanya Rayhan dengan raut wajah yang kesal.
"Ya mangap,
eh maap gue lupa." jawab Rifki
"Eh tapi kok
kayak pernah liat ya wajahnya." lanjutnya. Dengan berlagak sok pintar,
lelaki itu mengingat-ingat tentang sejarah G30S/PKI yang ia baca.
"Iya Ki
kayak gak asing gitu kan."
"Itu pak...
Pak Sukitman gak sih?" dengan
keras ia mengingat, akhirnya Rifki sadar bahwa mereka akan menyaksikan
penghkianatan dari sudut pandang seorang Sukitman.
Polisi muda
berusia 22 tahun dan berpangkat sebagai agen polisi dua itu tengah bertugas
berdua bersama seorang temang yakni Sutarso
dengan pangkat yang sama dengan dirinya.
"Wohiyya
bener! Itu pak Sukitman yang ada di buku itu kan!" dengan menepuk keras pundak
Rifki Rayhan histeris kala mengingat jasa pria yang mereka lihat itu.
Tak sempat Rifki
untuk membuka mulut ia pun merasa kaget dengan suara tembakan yang terdengar
sangat jelas ditelinganya.
DUARRR!!!
"Eh suara
apa tuh!" mereka kaget bukan main, dan setelah beberapa detik kemudian
mereka kebingungan dikarenakan pak Sukitman yang telah tiada dihadapan mereka.
"Lah pak
Sukitmannya kemana?" mata Rifki menari kesana-kemari untuk mencari pria
yang berjasa itu.
"Kayaknya
dia pergi deh gegara denger suara ledakan tadi." pikir Rayhan.
"Terus dia
pergi kemana?" Tanya Rifki, dan Rayhan hanya mengedikkan bahunya tanda tak
tau. Namun tiba-tiba matanya menangkap suatu banyagan seseorang yang menaiki
sepeda tua. "Tuh kita ikutin yuk!"
"Yaudah
Yuk." dengan perjalanan yang terhitung cepat mereka berdua akhirnya dapat
menyusul dan berjalan sejajaran dengan Sukitman yang menaiki sepeda.
Namun naas
ditengah perjalanan mereka terhenti karena mendengar teriakan tentara
berseragam loreng dan berbaret merah.
"Turun!
Lempar senjata dan angkat tangan!" ucap pria berbaju loreng tersebut,
tanpa banyak bicara Sukitman pun menuruti apa yang tentara itu perintahkan.
Sukitman akhirnya dilempar kesebuah truk dengan tangan yang diikat dan mata
yang ditutupi, ia ditempatkan duduk disamping supir. Tentu saja Rayhan dan
Rifki pun meiki atas truk tersebut.
Hari sudah mulai
pagi, kain yang dipakai untuk menutupi mata dilepas. Samar-samar suasana
disekeliling mulai terlihat, namun Sukitman tidak tau ia sedang berada dimana.
Sedangkan Rayhan dan Rifki mereka berkeliling mencari tahu tentang tempat yang
mereka sambangi.
"Yani wes
tak pateni." (Yani sudah dibunuh).
Samar Sukitman mendengar suara seseorang yang entah dimana suara itu berasal.
Dengan
menyipitkan matanya sukitkan mecari-cari siapa yang berbicara tadi lalu dia
tersadar meski sadar ia tau betul siapa yang ia lihat. "Pak Yani?"
ucap Sukitman.
Mendengar suara
itu Rayhan dan Rifki berbalik badan melangkah menuju kursi yang pak Sukitman
tempati, ia menatap ke arah yang sama dengan arah bola mata Sukitman.
Mata mereka
terbelalak, seakan tak percaya, dengan ragu Rayhan dan Rifki mendekati tempat
Pak Yani. Sedangkan Sukitman masih terduduk dengan tangan yang terikat.
Dengan bersimpuh
darah mereka melihat pak Yani yang didudukan dikursi, 'Sebegitu kejamnya kah
mereka? Berani membunuh pahlawan Revolusi!' batin Rifki.
Tak lama kemudian
seorang tentara mendekati Sukitman dan tau bahwa ia seorang polisi. Sukitman
langsung diseret ke dalam tenda.
Tentara itu
melapor keatasannya "Pengawal jendral pandjaitan ditawan." mereka
mengira jika sukitman adalah pengawal bapak DI Pandjaitan. Ia digusur guna
menuju tenda yang telah disediakan. Dan tak lupa Rayhan dan Rifki mengikuti
kemana mereka pergi.
Disalah satu
tenda di hutan lubang buaya itu penutup mata yang Sukitman gunakan dibuka dan
menyaksikan kejadian tersebut. Meski remang-remang Sukitman sempat mengamati
keadaan sekeliling. Ia melihat beberapa orang terikat dan didudukkan dikursi.
Lalu beberapa lainnya bersimpuh dilantai dengan berlumuran darah.
Begitu hari
terang Sukitman didorong dari tenda ke sebuah teras rumah, dan disana Sukitman
menyaksikan sekelompok orang mengerumuni sebuah sumur dengan berteriak "Ganyang gabir! Ganyang gabir!" lalu
dimasukkan lah tubuh manusia yang entah darimana datangnya dan disusul oleh
berondongan peluru.
Disisi lain
Rayhan dan Rifki yang penasaran pun melihat dan mendekati sumur disana mereka
melempar jasad manusia tak berdaya dengan sangat tidak manusiawi, ia tak tau
jasad siapa yang dilempar karena wajah dan sekujur tubuh mereka tertutupi oleh
darah yang merah pekat.
Sedetik kemudian,
mata kedua remaja itu saling tatap menatap seakan tengah berbicara lewat
tatapan yang memilukan. Rayhan baru menyadari bahwa sumur itu adalah sumur
tempat pembuangan para pahlawan Revolusi yang sering disebut 'Lubang Buaya'.
"I—itu."
seakan ingin menanyakan sesuatu mulut Rifki terbuka dan berkata dengan rasa
yang tak karuan, namun dipotong oleh suara Rayhan yang mengerti akan keadaan.
"Iya, itu
jasad pahlawan Revolusi." ucapnya singkat, padat, dan jelas! Iya kini
telah ingat bahwa mereka adalah 7orang pahlawan yang telah berjasa.
Hati kecil Rayhan
pun tersentil dan setetes air mata mulai membasahi mata, ia hanya tak menyangka
bahwa sebegitu kejamnya para PKI yang membunuh para pahlawan bangsa. 'Semoga
mereka bahagia dialam sana' batin Rayhan. Berbeda dengan Sukitman ia tak
mengetahui apa yang mereka lakukan dan jasad siapa saja yang mereka buang.
Kemudian tak lama
Sukitman sempat melihat seorang tawanan dengan bintang dua dipundaknya setelah
penutup mata dan ikat di tangannya dilepaskan, ia disuruh untuk menandatangani
sebuah surat dan ditodong dengan senjata. Namun sepertinya pria tersebut tidak
mau dan berusaha untuk memberontak hingga akhirnya tangannya diikat dan matanya
ditutup kembali, lalu ia dimasukkan kedalam sumur tersebut dengan posisi kepala
dibawah.
Lalu setelahnya
mereka menutup sumur tersebut dengan dedaunan dan tanah sehingga tak terlihat
lagi bekas sumur diasana. Melihat kejadian tersebut perasaan Sukitman semakin
tak karuan.
Setelah kejadian
tersebut jiwa Rayhan dan Rifki pun kembali ke tempat asal mereka yaitu disebuah
ruang bawah tanah yang dimana madih terdapat Raga mereka dan juga Riska yang
berada disana.
Pahlawan revolusi
telah tenang dialam sana dengan segala jasa dan nyawa yang mereka korbankan.
Satu pelajaran yang bisa kita ambil yaitu 'jadilah
anak bangsa yang berguna, dan hargailah mereka yang telah berjasa. Kita tak tau
kapan dan dalam keadaan apa kita mati, namun satu yang harus kita tekuni yakni
selalu beribadah dan ingat akan ilahai.'
Ade Reva
Nurhanifah, Tasikmalaya, 03 Oktober 2021

Komentar
Posting Komentar